SERIAL CERITA JEJAK KILAT: PERJALANAN MENUJU PENYULUH MASA DEPAN. Eps (1): PENYULUH YANG DATANG MEMBAWA CERAMAH
Dengan sepeda motor dinasnya, KILAT berangkat menuju Desa Awan. Jalan menuju desa itu berkelok-kelok melewati hamparan sawah yang luas. Beberapa bagian jalan masih berupa tanah yang licin akibat hujan deras pada malam sebelumnya. Dari kejauhan, langit di atas Kecamatan Gemuruh terlihat dipenuhi awan kelabu. Suara petir sesekali terdengar, seakan menyambut langkah awal perjalanan KILAT.
Sesampainya di balai kelompok tani, sekitar dua puluh orang petani telah duduk menunggu. Sebagian membicarakan kondisi tanaman padi. Beberapa petani mengeluhkan pupuk yang sulit diperoleh. Seorang petani lainnya membawa beberapa helai daun padi yang mulai menguning. KILAT meletakkan laptop di atas meja dan menyalakan presentasinya.
“Bapak dan Ibu, hari ini kita akan membahas peningkatan produktivitas tanaman padi melalui penerapan teknologi budidaya yang baik dan benar,” katanya dengan penuh semangat. Ia mulai menjelaskan pemilihan benih, pengolahan tanah, persemaian, penanaman, pemupukan, pengairan, hingga pengendalian organisme pengganggu tanaman. Sepuluh menit pertama, para petani masih memperhatikan. Dua puluh menit kemudian, beberapa petani mulai berbicara pelan. Seorang petani keluar untuk menerima telepon. Petani lainnya memandang ke arah halaman karena langit semakin gelap. Namun, KILAT terus berbicara. Ia merasa seluruh materi harus disampaikan karena telah dipersiapkan dengan susah payah. Hampir satu jam berlalu ketika seorang petani bernama Pak Jaya mengangkat tangan.
“Maaf, Pak Penyuluh,” katanya.
KILAT menghentikan penjelasannya.
“Iya, Pak Jaya. Ada yang ingin ditanyakan?”
Pak Jaya mengeluarkan beberapa helai daun padi dari dalam kantong plastik.
“Tanaman padi kami sekarang daunnya seperti ini. Sudah tiga hari jumlahnya semakin banyak. Kami ingin mengetahui penyebab dan cara mengatasinya.”
KILAT menerima daun tersebut. Ia memperhatikannya selama beberapa saat.
Permasalahan itu tidak terdapat dalam materi presentasinya.
“Nanti akan kita bahas setelah materi selesai, Pak,” jawab KILAT.
Pak Jaya mengangguk, tetapi raut wajahnya terlihat kecewa.
Seorang petani lain kemudian bertanya, “Kalau pupuk belum tersedia, bagaimana kami menentukan jadwal pemupukan?”
Pertanyaan berikutnya datang dari sudut ruangan.
“Besok diperkirakan turun hujan lebat. Apakah kami tetap boleh melakukan penyemprotan?”
Pertanyaan demi pertanyaan mulai bermunculan. Semuanya berkaitan dengan permasalahan nyata yang sedang dihadapi petani Desa Awan. Namun, tidak satu pun terdapat dalam susunan presentasi KILAT. Pertemuan akhirnya ditutup lebih cepat karena hujan mulai turun. Para petani meninggalkan ruangan. Daftar hadir telah terisi. Dokumentasi telah diambil. Materi telah disampaikan. Secara administrasi, kegiatan itu dapat dianggap selesai. Namun, KILAT tidak merasa berhasil. Ia duduk sendirian sambil menatap layar laptopnya. Empat puluh halaman materi yang sebelumnya terlihat sangat lengkap kini terasa tidak cukup untuk menjawab kebutuhan petani.
Pak Jaya yang belum pulang menghampirinya.
“Materi Bapak sebenarnya bagus,” kata Pak Jaya.
KILAT tersenyum tipis.
“Tetapi kami lebih membutuhkan jawaban atas masalah yang sedang terjadi di sawah,” lanjutnya.
Kalimat itu membuat KILAT terdiam. Selama ini ia mengira tugas penyuluh adalah membawa pengetahuan kepada petani. Hari itu ia mulai memahami bahwa pengetahuan tidak selalu ditemukan di dalam buku, laporan, atau presentasi.Sebagian pengetahuan justru harus ditemukan di sawah melalui pengamatan, percakapan, pengalaman, dan persoalan nyata yang dihadapi petani.
“Besok pagi, boleh saya melihat tanaman Bapak secara langsung?” tanya KILAT.
Pak Jaya tampak terkejut.
“Tentu saja boleh.”
“Saya belum dapat memastikan penyebabnya hanya dengan melihat daun ini. Besok kita periksa kondisi lahannya bersama-sama.”
Pak Jaya tersenyum.
“Kalau begitu, saya tunggu di ujung jalan Desa Awan.”
Setelah Pak Jaya pergi, KILAT menutup laptopnya. Untuk pertama kalinya, ia tidak lagi memikirkan berapa banyak materi yang belum disampaikan. Ia justru memikirkan berapa banyak suara petani yang belum didengarkan. Di luar balai kelompok tani, hujan turun semakin deras. Suara gemuruh terdengar bersahutan di langit Desa Awan. KILAT berdiri di teras sambil memandang hamparan sawah yang mulai diselimuti kabut tipis. Hari itu ia datang sebagai penyuluh yang membawa ceramah. Esok hari ia akan kembali sebagai penyuluh yang ingin mendengar, belajar, dan mencari solusi bersama petani.
Perjalanan KILAT dari Desa Awan, Kecamatan Gemuruh, menuju penyuluh masa depan baru saja dimulai.
PESAN KILAT
Penyuluhan tidak dimulai dari materi yang ingin disampaikan, tetapi dari persoalan yang perlu diselesaikan.
Penyuluh masa depan bukan hanya seorang pembicara. Ia adalah pendengar, pembelajar, penghubung, inovator, dan penggerak perubahan.
Bersambung ke Episode 2: Suara dari Ujung Sawah.
.jpg)
Posting Komentar