SERIAL CERITA JEJAK KILAT: PERJALANAN MENUJU PENYULUH MASA DEPAN EPISODE 2 SUARA DARI UJUNG SAWAH

Daftar Isi

 

Pagi belum sepenuhnya terang ketika KILAT menghidupkan sepeda motornya. Udara di Kecamatan Gemuruh masih terasa dingin setelah hujan deras semalam. Genangan air terlihat di beberapa bagian jalan menuju Desa Awan. Kali ini tas KILAT tidak dipenuhi bahan presentasi. Ia hanya membawa buku catatan, telepon genggam, kamera kecil, alat tulis, dan beberapa kantong untuk mengambil contoh tanaman. Hari itu KILAT tidak akan berdiri di depan ruangan. Ia akan turun langsung ke sawah. Pak Jaya telah menunggunya di ujung jalan desa. Petani itu mengenakan caping, baju lengan panjang, dan sepatu bot yang telah dipenuhi lumpur.

 “Selamat pagi, Pak Jaya,” sapa KILAT.

 “Pagi, Pak Penyuluh. Saya kira Bapak tidak jadi datang karena semalam hujannya sangat deras.”

·        KILAT mematikan mesin motornya.

·        “Saya sudah berjanji. Lagi pula, kita harus melihat langsung masalah yang Bapak ceritakan kemarin.”

 Pak Jaya tersenyum. Keduanya kemudian berjalan melewati pematang sempit menuju hamparan sawah di ujung Desa Awan. Di sepanjang perjalanan, KILAT melihat banyak hal yang tidak pernah tampak dari ruang pertemuan. Beberapa petak sawah terlihat subur dan hijau. Namun, di bagian lainnya terdapat tanaman yang menguning, tumbuh tidak merata, bahkan ada yang mulai rebah. Sesekali Pak Jaya berhenti untuk menunjukkan kondisi tertentu.

  • “Yang sebelah sana milik Pak Hasan,” katanya sambil menunjuk sawah di sisi kanan. “Tanamannya lebih muda satu minggu dari milik saya.”
  • “Apakah varietasnya sama?” tanya KILAT.
  • “Berbeda. Pak Hasan memakai benih yang dibeli bersama kelompok. Saya masih memakai benih simpanan dari panen sebelumnya.”

KILAT segera mencatatnya. Mereka kembali berjalan hingga tiba di petak sawah milik Pak Jaya. Beberapa petani lain telah menunggu di sana. Rupanya kabar kedatangan KILAT telah menyebar sejak pagi. Pak Hasan membawa tanaman padi yang tercabut. Bu Sari membawa botol bekas pestisida. Sementara Pak Rahman menggenggam sebuah buku kecil berisi catatan pembelian pupuk.

  •  Pak Penyuluh, sekalian lihat tanaman kami juga,” kata Pak Hasan.
  •  KILAT memandang wajah para petani yang berdiri mengelilinginya.

Kemarin mereka hanya duduk dan mendengarkan. Hari ini mereka datang membawa persoalan masing-masing. KILAT kemudian berjongkok di dekat tanaman milik Pak Jaya. Ia memperhatikan warna daun, pangkal batang, kondisi tanah, serta keberadaan serangga di sekitar tanaman.

  • Sejak kapan gejala ini muncul?” tanyanya.
  • Sekitar empat hari lalu,” jawab Pak Jaya.
  • Apakah semua petak mengalami kondisi yang sama?”
  • Tidak. Awalnya hanya di bagian dekat saluran air. Sekarang mulai menyebar ke tengah.”
  • Pemupukan terakhir kapan dilakukan?”
  • Pak Jaya berpikir sejenak.
  • Sekitar dua minggu lalu.”
  • Jenis dan jumlah pupuknya?”
  • Pak Jaya terdiam.
  • Saya tidak mencatat jumlah pastinya. Pokoknya seperti biasanya.”

 KILAT mengangguk. Ia tidak langsung memberikan jawaban. Sebaliknya, ia terus mengajukan pertanyaan.

  • Bagaimana kondisi air beberapa hari terakhir?”
  • Kadang terlalu tinggi. Setelah itu tiba-tiba kering karena saluran air ditutup dari sebelah atas.”
  • Bu Sari ikut berbicara.
  • Di sawah saya juga begitu, Pak. Kalau malam hujan, airnya berlebihan. Kalau dua hari tidak hujan, airnya sulit masuk.”

KILAT mulai memahami bahwa persoalan yang mereka hadapi tidak berdiri sendiri. Kondisi tanaman berhubungan dengan varietas, pemupukan, pengairan, cuaca, dan kebiasaan budidaya. Ia mengambil beberapa foto dan mencatat lokasi petak sawah melalui telepon genggamnya.

 ·        Pak Penyuluh, penyakit apa ini?” tanya Pak Jaya tidak sabar.

·        KILAT memandang kembali tanaman yang ada di tangannya.

·        “Saya memiliki dugaan awal, tetapi kita jangan terburu-buru menyimpulkan. Gejala yang hampir sama bisa disebabkan oleh beberapa hal. Saya perlu membandingkan kondisi tanaman, pola penyebaran, pengairan, dan riwayat pemupukannya.”

Para petani saling memandang. Biasanya, mereka berharap penyuluh langsung menyebut nama penyakit dan merekomendasikan obat. Namun, KILAT justru mengajak mereka melihat persoalan secara lebih lengkap.

      ·    Jadi belum bisa disemprot, Pak?” tanya Bu Sari.

  • Jangan melakukan penyemprotan hanya karena melihat daun berubah warna,” jawab KILAT. Kalau penyebabnya bukan hama atau penyakit, penyemprotan justru menambah biaya dan belum tentu menyelesaikan masalah.”
  • Pak Hasan mengangguk perlahan.
  • Berarti selama ini kami kadang terlalu cepat membeli obat.”
  • Bisa jadi,” jawab KILAT. “Karena itu kita harus belajar mengenali penyebabnya sebelum menentukan tindakan.”

Mereka kemudian berjalan mengelilingi petak sawah. KILAT meminta para petani membandingkan tanaman yang sehat dan tanaman yang mengalami gangguan. Ia juga meminta mereka mengamati bagian bawah daun, pangkal batang, kondisi akar, serta keadaan air. Di tengah pengamatan, Pak Rahman membuka buku kecil yang dibawanya.

 ·       Saya mencatat waktu pemupukan dan jumlah pupuk yang saya gunakan,” katanya.

·        KILAT membaca catatan tersebut.

  • Ternyata ini sangat membantu, Pak. Dengan catatan seperti ini, kita bisa membandingkan perlakuan dan hasilnya.”
  • Pak Jaya melihat buku itu dengan tertarik.
  • Saya tidak pernah mencatat. Biasanya hanya mengingat.”
  • Mulai sekarang kita coba membuat catatan sederhana,” kata KILAT. “Tidak perlu rumit. Cukup tanggal tanam, varietas, pemupukan, kondisi cuaca, serangan hama, dan tindakan yang dilakukan.”
  • Pak Jaya mengangguk.
  • Kalau semuanya dicatat, nanti kita bisa tahu mana cara yang paling baik, ya?”
  • Tepat sekali.”

Perjalanan mereka berlanjut hingga ke saluran air di ujung sawah. Di sana KILAT menemukan tumpukan rumput, tanah, dan sampah yang menghambat aliran air. Pak Hasan menunjuk saluran tersebut. “Ini yang sering membuat air tertahan. Kami sebenarnya sudah beberapa kali membicarakannya, tetapi belum ada yang mengoordinasikan pembersihan.” KILAT memandang saluran yang tersumbat, lalu melihat hamparan sawah di sekitarnya. Masalah yang dihadapi petani ternyata bukan hanya tentang tanaman. Ada persoalan pengairan, kebiasaan mencatat, penggunaan sarana produksi, koordinasi antarpemilik lahan, hingga keterlambatan memperoleh informasi. Di bawah sebuah pondok kecil, KILAT mengajak para petani beristirahat. Ia membuka buku catatannya dan membuat beberapa kolom.

  • Bapak dan Ibu,” kata KILAT, “kemarin saya datang membawa materi yang sudah saya tentukan sendiri. Hari ini saya ingin mendengar langsung dari Bapak dan Ibu. Menurut kalian, masalah mana yang paling mendesak untuk kita selesaikan?”
  • Pak Jaya langsung menjawab, “Kondisi tanaman yang menguning.”
  • Bu Sari mengangkat tangannya.
  • Informasi cuaca juga penting. Kami sering menyemprot, lalu beberapa jam kemudian hujan.”
  • Pak Hasan menambahkan, “Pengairan harus diperbaiki. Kalau air tidak teratur, tanaman tetap bermasalah meskipun pupuknya cukup.”
  • Pak Rahman berbicara terakhir.
  • Kelompok juga perlu memiliki catatan bersama. Selama ini setiap orang bekerja sendiri-sendiri.”
  • KILAT menuliskan semua jawaban itu.

Untuk pertama kalinya, rencana penyuluhan tidak disusun berdasarkan daftar materi dari meja kerja. Rencana itu mulai terbentuk dari suara petani di tengah sawah.

“Kita tidak mungkin menyelesaikan semuanya dalam satu hari,” kata KILAT. “Tetapi kita bisa memulainya satu per satu.”

Ia kemudian menyepakati beberapa langkah bersama petani. Contoh tanaman akan diperiksa lebih lanjut. Saluran air akan dibersihkan secara gotong royong. Setiap petani mulai membuat catatan sederhana. Informasi cuaca dan kondisi tanaman akan dibagikan melalui kelompok komunikasi desa.

  • Pak Jaya menatap KILAT sambil tersenyum.
  • Pertemuan hari ini berbeda, Pak.”
  • Berbeda bagaimana?”
  • Kemarin Bapak yang paling banyak berbicara. Hari ini kami yang banyak bercerita.”
  • KILAT tertawa kecil.
  • Mungkin memang sudah seharusnya begitu.”
  • Pak Jaya menggeleng.
  • Tidak semua orang mau mendengarkan keluhan petani sampai ke ujung sawah.”

 KILAT melihat hamparan padi di hadapannya. Angin pagi membuat daun-daun bergerak seperti gelombang hijau. Di kejauhan, awan gelap yang sejak tadi menggantung mulai bergerak meninggalkan Kecamatan Gemuruh. Hari itu KILAT belum menyelesaikan seluruh persoalan petani. Ia bahkan belum memberikan jawaban pasti mengenai tanaman Pak Jaya. Namun, ia telah menemukan sesuatu yang lebih penting: arah baru dalam menjalankan penyuluhan. Penyuluhan bukan kegiatan yang hanya dilakukan ketika petani duduk di ruang pertemuan. Penyuluhan dapat berlangsung di pematang, di saluran air, di pondok sawah, bahkan melalui percakapan sederhana antara penyuluh dan petani.

Sebelum pulang, KILAT berdiri di ujung pematang dan menuliskan satu kalimat di halaman terakhir buku catatannya:

Untuk memahami petani, seorang penyuluh harus bersedia berjalan menuju tempat persoalan itu berada.

KILAT menutup bukunya. Kemarin ia belajar untuk mendengarkan. Hari ini ia mulai belajar mengubah suara petani menjadi rencana kerja. Perjalanan menuju penyuluh masa depan terus berlanjut.

 PESAN KILAT

Penyuluh tidak seharusnya datang membawa semua jawaban. Ia harus datang dengan kemauan untuk bertanya, mengamati, mendengarkan, dan mencari solusi bersama.

Masalah petani tidak selalu terlihat dari balik meja. Terkadang jawabannya menunggu di ujung sawah.

 Bersambung ke Episode 3: Telepon Pintar di Tangan Petani

Posting Komentar