Cerdas Memilih Daging Ayam ASUH yang Aman dan Halal

Daftar Isi


Daging ayam merupakan salah satu sumber protein hewani yang paling populer dan terjangkau bagi masyarakat Indonesia. Baik bagi peternak, penyuluh pertanian, maupun konsumen rumah tangga, pemahaman tentang kualitas daging yang diproduksi dan dikonsumsi sangatlah penting. Untuk menjamin mutu serta keamanan pangan, pemerintah melalui Kementerian Pertanian terus mengampanyekan konsep ASUH, yaitu Aman, Sehat, Utuh, dan Halal.

Menjadi konsumen dan pelaku usaha yang cerdas berarti tahu persis bagaimana mengidentifikasi daging ayam berkualitas tinggi sejak dari kandang, rantai distribusi, hingga siap diolah di dapur. Artikel ini akan membahas secara mendalam prinsip ASUH serta petunjuk praktis dalam memilih dan mengelola daging pangan harian Anda.

Mengenal Konsep ASUH dalam Produk Peternakan

Konsep ASUH dirancang untuk memastikan bahwa produk peternakan yang beredar di masyarakat memenuhi standar mutu fisik, biologis, dan kaidah keagamaan. Berikut adalah penjabaran dari prinsip tersebut:

  • Aman: Daging bebas dari cemaran biologi (bakteri patogen), kimia (residu antibiotik atau hormon), dan fisik (benda asing) yang dapat mengganggu kesehatan manusia.
  • Sehat: Berasal dari unggas yang sehat, memiliki zat gizi yang baik, serta ditangani secara higienis sepanjang rantai pasok.
  • Utuh: Daging tidak dicampur dengan bagian dari hewan lain atau bahan tambahan yang menyesatkan, serta dijual sesuai bagian anatomi yang sebenarnya.
  • Halal: Dipotong sesuai dengan syariat Islam oleh Juru Sembelih Halal (Juleha) yang tersertifikasi, menggunakan peralatan bersih dan terpisah dari bahan non-halal.

Ciri Fisik Daging Ayam Segar dan Berkualitas

Saat membeli di pasar tradisional maupun modern, penting bagi masyarakat untuk mengamati tanda-tanda fisik daging secara teliti. Hindari terburu-buru dan gunakan indra penglihatan, penciuman, serta perabaan.

1. Warna dan Tampilan Daging

Daging segar umumnya berwarna putih kemerahan atau agak kekuningan yang alami. Kulitnya terlihat bersih, lembap, dan tidak kusam. Hindari membeli produk yang berwarna kebiruan, keabu-abuan, atau memiliki kepucatan abnormal yang menandakan daging sudah lama atau berasal dari ayam yang sakit.

2. Aroma yang Khas

Daging segar memiliki aroma khas daging segar yang lembut dan tidak menyengat. Apabila tercium bau busuk, amis yang berlebihan, bau asam, atau aroma kimia seperti formaldehida (formalin), segera urungkan niat untuk membelinya.

3. Tekstur dan Elastisitas

Tekan bagian daging secara perlahan dengan jari. Daging yang sehat dan segar memiliki tekstur yang kenyal dan konsistensi yang padat. Jika ditekan, bekas tekanan akan cepat kembali ke bentuk semula. Sebaliknya, daging yang lembek, lembab berlebih, atau terasa lengket mengindikasikan proses pembusukan telah dimulai.

4. Empat Kategori Berdasarkan Kondisi Dan Perlakuannya Sebelum Dijual

  • Ayam Segar

Ayam yang baru dipotong dan ditangani secara normal tanpa perlakuan bahan kimia. Umumnya kulit berwarna putih kekuningan/pucat, teksturnya masih kenyal, tidak terlalu lembek, dan tidak memiliki bau menyengat. Daging segar juga biasanya terasa padat ketika ditekan.

  •          Ayam Suntik

Istilah ini biasanya merujuk pada ayam yang disuntik atau diberi tambahan air untuk meningkatkan berat atau membuat daging terlihat lebih berisi. Ciri yang sering disebut adalah tubuh tampak lebih gemuk/berisi, kulit lebih tegang atau licin, dan ketika dimasak dapat mengeluarkan banyak air.

  •            Ayam Formalin

Ini merujuk pada ayam yang diduga diawetkan menggunakan formalin, yang sebenarnya merupakan bahan kimia berbahaya dan tidak boleh digunakan untuk mengawetkan makanan. Ayam yang dicurigai diberi formalin dapat memiliki tekstur lebih keras/kenyal tidak wajar, bau khas yang berbeda, serta tampak lebih tahan lama. Namun, ciri fisik saja tidak cukup untuk memastikan adanya formalin kepastian memerlukan pemeriksaan laboratorium.

  •          Ayam Tiren

“Tiren” adalah istilah yang umum digunakan di Indonesia untuk ayam yang mati sebelum disembelih (mati kemarin). Ayam seperti ini bukan hasil penyembelihan normal. Ciri yang dapat muncul antara lain warna kulit/daging yang lebih gelap atau kemerahan, terdapat bercak darah atau memar, dan teksturnya dapat berbeda dari ayam yang disembelih dengan benar. Ayam tiren tidak layak untuk dikonsumsi.

Langkah Praktis Menjaga Kualitas Daging dari Kandang hingga Meja Makan

Bagi para peternak dan penyuluh pertanian, menjaga mutu ASUH dimulai sejak pemeliharaan di peternakan. Sedangkan bagi konsumen, menjaga mutu dilanjutkan saat pembelian dan penyimpanan.

1.     Penerapan Biosekuriti dan Manajemen Pemotongan: Peternak harus memastikan penggunaan input budidaya (seperti pakan dan obat-obatan) sesuai aturan, menaati masa henti obat (withdrawal time), serta membawa ternak ke Rumah Potong Unggas (RPU) bertifikat Halal dan NKV (Nomor Kontrol Veteriner).

2.     Perhatikan Suhu Rantai Dingin: Bakteri pada daging berkembang pesat pada suhu ruang (5°C hingga 60°C). Pilih penjual yang menerapkan sistem pemajangan dingin (chilled) atau beku (frozen) untuk menjaga kesegaran.

3.     Pisahkan dari Bahan Kimia dan Pangan Lain: Saat berbelanja, pisahkan wadah daging segar dari bahan makanan yang dikonsumsi langsung (seperti sayur dan buah) untuk mencegah kontaminasi silang.

4.     Penyimpanan yang Tepat di Rumah: Jika tidak langsung dimasak, segera simpan daging dalam wadah tertutup rapat di dalam freezer dengan suhu di bawah -18°C. Untuk penggunaan jangka pendek (1–2 hari), daging dapat disimpan di bagian chiller kulkas pada suhu 0–4°C.

Pentingnya Edukasi Pangan Bagi Petani dan Penyuluh

Penyuluh pertanian dan peternakan memiliki peran strategis dalam mengedukasi masyarakat dan peternak skala kecil. Pemahaman mengenai pentingnya sertifikasi NKV pada unit usaha peternakan dan sertifikasi Halal pada RPU harus terus disosialisasikan. Dengan sinergi antara peternak yang menerapkan Good Farming Practices (GFP) dan konsumen yang cerdas, ketahanan pangan berbasis produk ASUH di Indonesia dapat terwujud secara berkelanjutan.

Menjadi konsumen yang cerdas tidak hanya melindungi keluarga dari risiko penyakit akibat pangan (foodborne diseases), tetapi juga mendorong industri peternakan lokal untuk terus meningkatkan standar mutu dan kebersihan produknya.

 

Sumber    : Ditjen Peternakan dan Keswan Kementrian Pertanian, dll
Editor      : Kilat 


Redaksi KILAT
Kreatif • Inovatif • Luwes • Adaptif • Tanggap
Menginspirasi Penyuluh, Menguatkan Pertanian Indonesia

1 komentar

Mantap
27 Agustus 2026 pukul 02.07 Hapus
Mantap