Jejak Kilat: Perjalanan Menuju Penyuluh Masa Depan Episode 6. Perlawanan Terhadap Perubahan

Daftar Isi

 

Episode 6. Perlawanan Terhadap Perubahan

Pagi itu, suasana di Desa Awan, Kecamatan Gemuruh terasa sedikit berbeda. KILAT berdiri di depan papan informasi kelompok tani. Di sana terpampang hasil kegiatan sekolah lapang, catatan pengamatan tanaman, serta beberapa grafik sederhana yang dibuat berdasarkan data petani. Beberapa petani terlihat antusias. Namun, tidak semuanya. Pak Darman, salah seorang petani senior yang cukup disegani, berdiri dengan tangan bersedekap.

“Menurut saya, cara lama sebenarnya sudah cukup,” katanya. KILAT menoleh.

“Maksud Pak Darman?”

“Dari dulu kami bertani tanpa grup digital, tanpa data macam-macam, tanpa sekolah lapang. Tanaman tetap tumbuh. Panen tetap ada.” Beberapa petani terdiam.

Pak Darman melanjutkan.

“Sekarang malah semuanya harus dicatat. Foto tanaman harus dikirim. Ada pertemuan di sawah. Ada grup telepon. Bukankah ini malah menambah pekerjaan?” KILAT tidak langsung menjawab.

Ia teringat dirinya sendiri beberapa waktu lalu. Bukankah dulu ia juga merasa bahwa cara kerja lama sudah cukup?

Perubahan Tidak Selalu Disambut

Setelah pertemuan selesai, KILAT duduk sendirian di pondok sawah. Ia membuka catatan perjalanan sejak pertama kali datang ke Desa Awan. Episode pertama. Ia datang membawa empat puluh halaman materi. Petani mendengarkan, tetapi persoalan mereka belum terjawab. Episode kedua.Ia mulai mendengarkan suara petani. Episode ketiga. Mereka mulai memanfaatkan telepon pintar untuk berbagi informasi. Episode keempat. Informasi mulai diolah menjadi data. Episode kelima. Petani belajar melalui sekolah lapang tanpa dinding. Semua terlihat berjalan baik. Namun sekarang KILAT menghadapi masalah baru. Tidak semua orang siap berubah pada kecepatan yang sama.

Ia menarik napas panjang.

“Kalau saya memaksa, mereka bisa semakin menolak,” pikirnya.

KILAT kemudian teringat pesan Pak Karim beberapa waktu lalu:

“Jangan membuat teknologi menjadi tembok baru antara penyuluh dan petani.” Kalimat itu membuat KILAT berpikir. Mungkin masalahnya bukan pada perubahan. Mungkin cara memperkenalkan perubahan yang harus diperbaiki.

Bukan Memaksa, Tetapi Membuktikan

Keesokan harinya KILAT menemui Pak Darman di sawah.

“Pak, boleh saya ikut melihat lahan Bapak?” Pak Darman mengangguk.

Mereka berjalan menyusuri pematang. KILAT tidak membicarakan aplikasi. Tidak membicarakan data. Tidak membicarakan sekolah lapang. Ia hanya bertanya tentang sawah.

“Biasanya Bapak mencatat biaya produksi?”

“Tidak.”

“Kalau lupa kapan pemupukan terakhir?”

“Ya, paling mengingat-ingat.”

“Kalau ingin membandingkan hasil panen tahun lalu dengan tahun ini?” Pak Darman tertawa.

“Ya pakai ingatan.” KILAT ikut tertawa.

“Berarti ingatan Bapak harus kuat.”

“Betul.”

Mereka terus berjalan. Kemudian KILAT berhenti di salah satu petak.

“Pak, kalau kita punya catatan sederhana tentang biaya, pemupukan, waktu tanam, dan hasil panen, kira-kira membantu tidak?” Pak Darman terdiam.

“Mungkin membantu.”

“Tidak perlu rumit. Saya yang bantu membuat formatnya.” Pak Darman mengangguk.

“Kalau begitu boleh dicoba.” KILAT tersenyum.

Ia mulai memahami bahwa perubahan tidak harus dimulai dari sesuatu yang besar. Kadang perubahan dimulai dari satu masalah kecil yang benar-benar dirasakan manfaatnya.

Satu Bukti Lebih Kuat Daripada Sepuluh Penjelasan

Beberapa minggu kemudian, KILAT mengajak Pak Darman melihat catatan hasil sekolah lapang. Ia menunjukkan dua petak yang mendapatkan perlakuan berbeda.

“Ini data hasil pengamatan kita.” Pak Darman memperhatikan angka-angka tersebut.

“Yang ini hasilnya lebih baik.”

“Betul.”

“Kenapa?” KILAT tidak langsung menjawab.

“Menurut Bapak?” Pak Darman melihat kembali catatan.

“Waktu pemupukannya lebih teratur.”

“Selain itu?”

“Pengairannya juga lebih terjaga.” KILAT mengangguk.

“Data ini bukan untuk membuktikan bahwa cara lama Bapak salah. Data ini membantu kita melihat apa yang bekerja dengan baik di kondisi Desa Awan.” Pak Darman terdiam cukup lama. Akhirnya ia berkata:

“Kalau begitu, saya tidak keberatan mencoba.” KILAT tersenyum.

“Tidak harus langsung berubah semuanya, Pak. Kita coba sedikit demi sedikit.”

Kilat Belajar Menjadi Luwes

Sejak saat itu, KILAT mengubah cara pendekatannya. Ia tidak lagi mengatakan:

“Bapak harus menggunakan teknologi.” Ia menggantinya dengan:

“Mari kita lihat apakah teknologi ini bisa membantu.” Ia tidak mengatakan:

“Semua harus menggunakan aplikasi.” Ia mengatakan:

“Gunakan cara yang paling mudah bagi Bapak dan Ibu.”

Petani yang nyaman dengan pesan teks boleh menggunakannya. Petani yang lebih mudah mengirim pesan suara boleh menggunakan suara. Petani yang belum terbiasa dengan telepon pintar tetap dapat menyampaikan informasi secara langsung. Data tetap dikumpulkan, tetapi dengan cara sederhana. Sekolah lapang tetap berjalan, tetapi menyesuaikan waktu petani.

KILAT mulai memahami arti sebenarnya dari satu kata yang selama ini hanya ia lihat sebagai bagian dari namanya: L — LUWES

Penyuluh masa depan tidak memaksakan satu cara kepada semua orang. Ia mampu menyesuaikan pendekatan dengan keadaan.

Ketika Petani Mulai Memilih Sendiri

Suatu pagi, Pak Darman datang menemui KILAT.

“Pak KILAT.”

“Iya, Pak?”

“Saya mau minta bantuan.” KILAT terkejut.

“Bantuan apa?”

“Ajari saya cara memasukkan catatan biaya usaha tani ke telepon.” KILAT tersenyum.

“Bukankah kemarin Bapak bilang cara lama sudah cukup?” Pak Darman tertawa.

“Masih cukup. Tapi kalau ada cara yang lebih memudahkan, kenapa tidak dicoba?”

KILAT menyerahkan telepon pintarnya. Mereka duduk di bawah pohon.

KILAT mengajarkan langkah demi langkah. Tidak lama kemudian, Pak Darman berhasil memasukkan data pertamanya. Biaya benih, Kemudian Biaya pupuk Lalu Biaya tenaga kerja. Pak Darman melihat layar teleponnya.

“Begini saja?”

“Begitu saja.” Pak Darman tersenyum.

“Kalau tahu caranya sesederhana ini, dari dulu saya coba.”

 Perubahan Mulai Menyebar

Perubahan kecil Pak Darman ternyata menarik perhatian petani lain. Pak Hasan mulai mengikuti. Bu Sari mulai membantu petani lain membuat catatan. Pak Rahman membantu mengumpulkan data. Pak Karim menjadi salah satu orang yang paling aktif menyampaikan informasi melalui grup. Bahkan beberapa petani yang sebelumnya tidak tertarik dengan sekolah lapang mulai datang untuk melihat hasilnya. KILAT memperhatikan semua itu. Ia sadar bahwa perubahan tidak terjadi karena satu penyuluh memberikan perintah. Perubahan terjadi ketika orang melihat manfaat dan kemudian memilih untuk ikut.

Kilat Menemukan Makna Baru

Sore hari, KILAT kembali duduk di pondok sawah. Pak Jaya datang menghampirinya.

“Sekarang sudah banyak yang berubah, ya, Pak.” KILAT tersenyum.

“Belum banyak.”

“Menurut saya banyak.” Pak Jaya menunjuk ke arah para petani.

“Dulu kami menunggu Bapak memberi tahu. Sekarang kami saling memberi tahu.” Ia menunjuk telepon pintarnya.

“Dulu kami bertanya setelah masalah besar. Sekarang kami mulai melaporkan ketika masalah baru muncul.”

Kemudian ia menunjuk petak sekolah lapang.

“Dulu kami hanya percaya pada kebiasaan. Sekarang kami mulai mencoba dan membandingkan.”

KILAT terdiam. Ia menyadari sesuatu. Tugas penyuluh bukan membuat semua orang berubah dengan cepat. Tugas penyuluh adalah menciptakan ruang agar perubahan dapat tumbuh.

Ujian Terbesar Belum Selesai

Namun, tepat ketika KILAT mulai merasa perjalanan mereka semakin kuat, sebuah kabar datang. Serangan hama mulai muncul di beberapa wilayah Desa Awan. Pesan masuk ke grup PETANI AWAN TANGGAP bertubi-tubi.

“Pak KILAT, ada tanaman yang mulai rusak.”

“Di wilayah utara juga ditemukan.”

“Apakah ini sama seperti kejadian sebelumnya?”

KILAT segera membuka data Ia melihat lokasi laporan. Ada pola penyebaran. Namun kali ini cakupannya lebih luas.KILAT berdiri. “Ini saatnya kita bergerak.”  Ia tidak lagi bekerja sendirian. Data sudah tersedia. Petani sudah terhubung. Sekolah lapang sudah berjalan. Kelompok sudah terbiasa berbagi informasi. Perjalanan panjang yang dimulai dari sebuah ceramah yang gagal kini telah membawa mereka ke titik yang berbeda.

KILAT mengambil helmnya. Mesin sepeda motornya menyala. Di belakangnya, beberapa petani mulai bergerak menuju lahan masing-masing. Kali ini KILAT tidak sendirian menghadapi masalah. Ia memiliki jaringan petani yang siap bergerak bersama. Dan mungkin, tanpa mereka sadari, inilah tanda bahwa penyuluhan di Desa Awan benar-benar telah berubah.

Pesan Kilat

Perubahan tidak bisa dipaksakan. Perubahan harus dipahami, dicoba, dirasakan manfaatnya, lalu ditumbuhkan bersama.

Penyuluh masa depan harus mampu: MENDENGARKAN → MEMAHAMI → MENCOBA → MEMBUKTIKAN → MENGAJAK

Bukan: MEMERINTAHKAN → MEMAKSAKAN → MENUNTUT

Karena keberhasilan transformasi bukan ketika semua orang mengikuti penyuluh.

Keberhasilan terjadi ketika masyarakat mulai memilih untuk berubah karena melihat manfaatnya.

Bersambung ke Episode 7: Kolaborasi dari Desa



 

Posting Komentar