Jejak Kilat: Perjalanan Menuju Penyuluh Masa Depan Episode 5 : Sekolah Lapang Tanpa Dinding

Daftar Isi

 Jejak Kilat - Serial Kilat - Penyuluh masa depan

Pagi itu, udara di Desa Awan, Kecamatan Gemuruh terasa segar setelah hujan ringan turun semalam. Matahari baru saja naik di balik perbukitan, sementara embun masih menempel di ujung daun padi.

Di tengah hamparan sawah, beberapa petani mulai berdatangan.

Pak Jaya membawa caping dan buku catatan kecil.
Pak Hasan datang dengan sepatu bot yang masih berlumpur.
Bu Sari membawa botol minum dan alat tulis.
Pak Rahman membawa meteran kecil dan catatan pemupukan.
Pak Karim datang paling belakang sambil tersenyum.

Mereka semua menuju lokasi yang sudah ditentukan KILAT. Bukan balai kelompok, Bukan ruang rapat, Bukan aula. Hari itu, tempat belajar mereka adalah hamparan sawah itu sendiri. Di sebuah papan sederhana yang ditancapkan di pinggir petak demplot, tertulis dengan huruf besar:

Sekolah Lapang Desa Awan

Belajar dari Lahan, Belajar dari Pengalaman, Belajar Bersama

Pak Hasan membaca tulisan itu sambil tertawa kecil.

“Sekolah kok tidak ada dindingnya, Pak?” KILAT yang sedang menyiapkan beberapa lembar kertas balik ikut tersenyum.

“Justru itu kelebihannya, Pak. Dindingnya diganti sawah. Meja belajarnya diganti pematang. Dan gurunya bukan hanya saya, tetapi juga pengalaman kita semua.”

Para petani saling memandang. Hari itu mereka merasa sedang memasuki sesuatu yang baru.

Belajar Tidak Lagi Hanya Mendengar

KILAT berdiri di depan para petani, tetapi kali ini ia tidak membawa presentasi panjang. Ia tidak membuka laptop. Ia tidak langsung menjelaskan banyak teori. Sebaliknya, ia mengajak para petani berdiri melingkar di tepi sawah.

“Bapak dan Ibu,” kata KILAT, “hari ini kita tidak akan belajar dengan cara lama.”

Pak Jaya bertanya, “Maksudnya bagaimana, Pak?”

“Kalau sebelumnya saya datang membawa materi lalu Bapak dan Ibu mendengarkan, sekarang kita belajar langsung dari kondisi tanaman.” Bu Sari mengangguk pelan.

“Berarti kita langsung praktik?”

“Betul. Kita akan mengamati, membandingkan, bertanya, berdiskusi, dan menarik kesimpulan bersama.” KILAT lalu membagi kegiatan hari itu menjadi beberapa bagian.

1. Mengamati tanaman

2. Membandingkan kondisi antar petak

3. Mencatat hasil pengamatan

4. Menentukan masalah utama

5. Menyusun langkah tindak lanjut

 Pak Karim mengangkat tangan.

“Kalau kami salah menjawab bagaimana?” KILAT tersenyum.

“Sekolah lapang bukan tempat mencari siapa yang paling pintar. Ini tempat belajar bersama. Kalau ada yang kurang tepat, kita perbaiki bersama.” Jawaban itu membuat suasana menjadi lebih santai.

Petak Sawah Menjadi Ruang Belajar

KILAT mengajak kelompok berjalan menuju dua petak sawah yang sudah dipilih sebelumnya. Petak pertama tampak cukup baik. Tanamannya hijau, tegak, dan tumbuh merata. Petak kedua menunjukkan beberapa masalah. Ada daun yang menguning, pertumbuhan tidak seragam, dan sebagian area tampak terlalu basah. KILAT berdiri di tengah pematang.

“Sekarang kita mulai. Apa perbedaan yang Bapak dan Ibu lihat?” Pak Jaya menjawab lebih dulu.

“Warna tanamannya berbeda, Pak. Yang sebelah sini lebih pucat.”

Bu Sari menambahkan, “Pertumbuhannya juga tidak seragam.”

Pak Hasan jongkok dan memegang pangkal batang.

“Tanah di sini lebih lembek. Airnya juga lebih banyak.” Pak Rahman melihat akar tanaman yang dicabut hati-hati.

“Akarnya kelihatan kurang sehat dibanding petak sebelah.” KILAT mengangguk satu demi satu.

“Bagus. Hari ini saya tidak perlu banyak bicara, karena Bapak dan Ibu sudah mulai melihat sendiri.”

Pak Karim yang sejak tadi diam tiba-tiba ikut bersuara.

“Kalau hanya dijelaskan di ruangan, mungkin saya tidak terlalu paham. Tapi kalau melihat begini, perbedaannya jelas sekali.” KILAT tersenyum.

Inilah yang ia harapkan.

Petani tidak hanya mendengar penjelasan, tetapi benar-benar mengalami proses belajar.

Petanyaan Menjadi Pintu Pembelajaran

Setelah pengamatan awal selesai, KILAT mengajukan pertanyaan.

“Menurut Bapak dan Ibu, apa penyebab perbedaan kondisi tanaman di dua petak ini?”

Pak Hasan menjawab, “Bisa karena air, Pak.”

Bu Sari berkata, “Mungkin juga pemupukannya berbeda.”

Pak Rahman membuka catatannya. “Kalau menurut catatan saya, jadwal pemupukan di petak ini memang terlambat beberapa hari.”

Pak Jaya menimpali, “Saluran air di sebelah sini juga pernah tersumbat minggu lalu.”

KILAT tidak langsung menyimpulkan. Ia justru menulis semua kemungkinan itu pada kertas balik.

Kemungkinan penyebab:

Kondisi air tidak stabil, Waktu pemupukan berbeda, Saluran air tersumbat, Pertumbuhan tanaman tidak seragam, Kemungkinan gangguan akar atau unsur hara

“Sekarang,” kata KILAT, “kita periksa satu per satu.” Para petani tampak semakin bersemangat. Suasana belajar berubah menjadi diskusi aktif.

Petani Bukan Hanya Peserta, Tetapi Guru

Ketika mereka membahas pengairan, Pak Karim maju ke depan. Ia menunjuk arah aliran air dan menjelaskan bagaimana kebiasaan pembagian air di hamparan itu sejak dulu.

“Kalau pintu air bagian atas dibuka terlalu lama, petak di bawah sering kelebihan air. Tapi kalau dibuka sebentar, yang di ujung malah kekurangan.” Para petani lain mengangguk. KILAT mempersilakan Pak Karim menjelaskan lebih lanjut. Hari itu, Pak Karim yang biasanya merasa tertinggal dalam urusan teknologi justru menjadi sumber pengetahuan utama tentang tata air sawah. Kemudian giliran Bu Sari berbicara. Ia menceritakan pengalamannya membandingkan dua jenis pemupukan di lahannya. Pak Hasan menambahkan tentang waktu terbaik melakukan penyemprotan agar tidak sia-sia saat hujan datang. Pak Rahman menjelaskan manfaat catatan usaha tani dalam melihat perbedaan hasil. KILAT berdiri di samping mereka sambil mencatat poin-poin penting. Dalam hati ia merasa senang. Sekolah lapang benar-benar mulai hidup. Penyuluhan tidak lagi satu arah. Pengetahuan tidak hanya datang dari penyuluh, tetapi tumbuh dari pengalaman bersama.

Coba, Amati, Dan Bandingkan

Pada pertemuan berikutnya, KILAT mengusulkan sesuatu.

“Kita perlu membuat petak pembelajaran,” katanya.

Pak Jaya bertanya, “Untuk apa, Pak?”

“Supaya kita tidak hanya berbicara, tetapi juga membuktikan.”

KILAT menjelaskan rencananya. Mereka akan menyiapkan petak kecil untuk membandingkan beberapa perlakuan, misalnya: pengairan yang lebih teratur dan yang tidak teratur catatan pemupukan yang lengkap dan yang tidak lengkap pengamatan tanaman rutin dan yang tidak rutin Tujuannya bukan untuk membuat lahan percobaan yang rumit, tetapi untuk memberi bukti sederhana yang bisa dipahami bersama. Pak Hasan terlihat antusias.

“Kalau begitu, nanti kita bisa lihat langsung mana yang hasilnya lebih baik.”

“Betul,” jawab KILAT. “Sekolah lapang harus memberi pengalaman nyata.” Bu Sari tersenyum.

“Jadi bukan sekadar mendengarkan saran?”

“Bukan. Kita belajar dengan cara mencoba, mengamati, lalu mengambil pelajaran.”

Kesalahan Menjadi Bagian Dari Belajar

Namun perjalanan sekolah lapang tidak selalu lancar. Suatu hari, salah satu petak pembelajaran menunjukkan hasil yang tidak sesuai harapan. Tanaman pada bagian tertentu tumbuh kurang baik. Pak Jaya tampak kecewa.

“Wah, gagal ini, Pak.” KILAT menggeleng pelan.

“Belum tentu gagal.” Pak Jaya terlihat bingung.

“Lho, hasilnya jelek.” KILAT berjongkok di dekat tanaman.

“Kalau hasilnya berbeda dari yang kita harapkan, itu juga pelajaran. Sekarang kita cari tahu kenapa.”

Pak Rahman kemudian memeriksa catatan. Ternyata ada perlakuan yang tidak dilakukan sesuai rencana karena hujan datang lebih cepat. Bu Sari menambahkan bahwa air di petak tersebut sempat terlalu tinggi selama dua hari. Pak Hasan melihat ada beberapa tanaman yang terganggu karena pijakan saat pengamatan. KILAT menatap mereka semua.

“Nah, ini pelajaran penting. Dalam usaha tani, kenyataan lapangan tidak selalu sama dengan rencana. Karena itu kita perlu belajar menyesuaikan.” Pak Karim tertawa kecil.

“Berarti sawah ini memang sekolah sungguhan, Pak. Karena ada ujiannya juga.”

Semua tertawa.

Belajar Membangun Kepercayaan Diri

Seiring berjalannya waktu, para petani Desa Awan mulai berubah. Jika dulu mereka menunggu penyuluh datang membawa penjelasan, kini mereka datang ke sekolah lapang dengan pertanyaan, pengalaman, dan hasil pengamatan sendiri. Pak Jaya mulai rajin mencatat, Bu Sari semakin aktif menyampaikan pendapat, Pak Hasan tidak lagi asal menyemprot tanpa pengamatan awal, Pak Rahman membantu merapikan data,Pak Karim yang semula ragu kini sering berdiri paling depan saat diskusi. Suatu pagi, saat pengamatan rutin dilakukan, KILAT sengaja mundur beberapa langkah. Ia hanya memperhatikan. Para petani mulai berdiskusi sendiri.

“Coba lihat warna daun di bagian sini,” kata Pak Hasan.

“Bandingkan dengan yang sebelah sana,” sahut Bu Sari.

“Catat waktunya juga,” ujar Pak Rahman. Pak Karim menunjuk saluran air.

“Kalau bagian ini tidak dibersihkan, nanti pengaruh lagi ke petak sebelah.” KILAT tersenyum diam-diam.

Inilah tanda bahwa pembelajaran mulai mengakar. Penyuluh tidak harus selalu menjadi pusat. Keberhasilan justru terlihat ketika petani mulai percaya pada kemampuannya sendiri untuk mengamati, menganalisis, dan memutuskan.

 Sekolah Lapang Tanpa Dinding

Sore hari, setelah kegiatan selesai, KILAT duduk di sebuah pondok kecil di tepi sawah. Angin bertiup pelan, menggerakkan daun-daun padi yang mulai menguning keemasan. Pak Jaya duduk di sebelahnya.

 “Pak KILAT,” katanya, “saya baru sadar sesuatu.”

“Apa itu, Pak?”

“Dulu saya mengira penyuluhan itu artinya mendengarkan orang menjelaskan. Sekarang saya merasa penyuluhan itu artinya belajar melihat sawah dengan cara yang berbeda.” KILAT menoleh dan tersenyum.

“Itu berarti sekolah lapang kita berjalan.” Pak Jaya mengangguk.

“Dan saya suka cara ini. Karena yang dibahas benar-benar yang kami alami.”

 KILAT memandang hamparan sawah di hadapannya : Tidak ada dinding, Tidak ada pendingin ruangan.

Tidak ada meja rapat, Tetapi di tempat itulah proses belajar yang sesungguhnya berlangsung, Di tengah lumpur, di antara pematang, di bawah langit terbuka, pengetahuan terasa lebih dekat dengan kehidupan petani. KILAT lalu membuka buku catatannya dan menulis:

Sekolah lapang bukan sekadar metode belajar. Sekolah lapang adalah cara membangun keberanian petani untuk berpikir, mencoba, dan mengambil keputusan berdasarkan pengalaman lapangan.

Ia menutup bukunya pelan. Namun saat menatap para petani yang mulai pulang satu per satu, sebuah pertanyaan baru muncul di benaknya. Sekolah lapang telah membuat petani lebih aktif belajar. Data telah membantu menentukan masalah yang perlu dibahas. Teknologi telah mempercepat arus informasi. Tetapi perubahan tidak selalu mudah diterima semua orang. Masih ada sebagian pihak yang menganggap cara kerja baru ini terlalu merepotkan. Masih ada yang merasa pola lama sudah cukup.

KILAT menarik napas panjang. Perjalanan menuju penyuluh masa depan belum selesai. Tantangan berikutnya bukan hanya mengajar atau mendampingi. Tantangan berikutnya adalah menghadapi penolakan terhadap perubahan itu sendiri.

 

PESAN KILAT

Sekolah lapang terbaik adalah yang membuat petani tidak hanya mendengar, tetapi mengalami, mengamati, mencoba, membandingkan, dan menarik kesimpulan sendiri.

Penyuluh masa depan harus mampu mengubah proses belajar dari:

CERAMAH → DISKUSI → PENGAMATAN → PEMBUKTIAN → KEPERCAYAAN DIRI PETANI

Karena penyuluhan yang kuat bukan yang membuat petani tergantung pada penyuluh, tetapi yang membuat petani semakin mampu belajar dan bertindak sendiri.

 

Bersambung ke Episode 6: Perlawanan terhadap Perubahan

 


Posting Komentar