Petani Milenial Sambas Pilih Hortikultura daripada Kerja ke Luar Negeri, Raup Puluhan Juta Rupiah
SAMBAS – REDAKSI KILAT | Bertani kini tidak lagi identik dengan pekerjaan yang kurang menjanjikan. Jika dikelola dengan serius, terencana, dan mampu membaca peluang pasar, sektor pertanian justru dapat menjadi sumber penghasilan yang menjanjikan. Hal tersebut dibuktikan oleh Karmadi (43), petani hortikultura asal Desa Twi Mentibar, Kecamatan Selakau, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat.
Di tengah pilihan sebagian masyarakat usia produktif untuk mencari pekerjaan ke luar daerah bahkan ke luar negeri, Karmadi justru memilih tetap bertahan di kampung halaman dan mengembangkan usaha pertanian hortikultura. Bagi Karmadi, tanah pertanian bukan sekadar tempat bekerja, tetapi menjadi sumber penghidupan sekaligus jalan untuk membangun masa depan keluarganya. Karmadi yang telah berkeluarga dan dikaruniai tiga orang anak mulai menekuni usaha hortikultura sejak tahun 2014. Hingga sekarang, kurang lebih 12 tahun ia konsisten mengembangkan berbagai jenis tanaman hortikultura.
Kelola Lahan Satu Hektare dengan Beragam Komoditas
Tidak hanya mengandalkan satu jenis tanaman, Karmadi menerapkan pola usaha dengan membudidayakan beberapa komoditas hortikultura. Tanaman yang dikembangkan antara lain cabai, mentimun, kacang panjang, tomat, semangka hingga gambas. Total lahan yang dikelolanya mencapai sekitar 1 hektare.
Keragaman tanaman tersebut menjadi salah satu strategi dalam menjaga keberlanjutan usaha. Ketika satu komoditas selesai dipanen atau mengalami perubahan harga, masih terdapat komoditas lain yang dapat menjadi sumber pendapatan. Pengalaman bertahun-tahun di lapangan juga membuat Karmadi semakin memahami waktu tanam, kebutuhan tanaman hingga peluang pasar untuk setiap komoditas yang dibudidayakan.
Kerja keras tersebut memberikan hasil yang cukup menjanjikan. Menurut Karmadi, pada periode produksi dan panen yang baik, pendapatan bersih dari usaha hortikulturanya dapat berkisar Rp20 juta hingga Rp30 juta per bulan. Angka tersebut membuktikan bahwa pertanian hortikultura memiliki potensi ekonomi yang besar apabila dikelola secara intensif dan memiliki akses pasar yang baik.
Hasil Panen Masuk Pedagang Pengumpul hingga Dapur MBG
Selama ini hasil panen dari kebun Karmadi dipasarkan melalui beberapa jalur. Sebagian besar dijual kepada pedagang pengumpul, sementara sebagian hasil produksi juga mulai diserap untuk memenuhi kebutuhan Dapur Makan Bergizi Gratis (MBG). Masuknya hasil pertanian lokal ke Dapur MBG memberikan peluang pasar baru bagi petani hortikultura di daerah.
Karmadi mengaku keberadaan program tersebut cukup membantu usahanya, terutama dalam memberikan tambahan kepastian pasar bagi hasil pertanian yang diproduksi. Menurutnya, salah satu tantangan yang kerap dihadapi petani hortikultura adalah fluktuasi harga saat panen. Ketika produksi melimpah sementara permintaan terbatas, harga komoditas di tingkat petani berpotensi turun. Dengan adanya tambahan pasar melalui Dapur MBG, hasil produksi petani dapat terserap lebih luas sehingga memberikan dampak positif terhadap kestabilan pemasaran.
“Dengan adanya MBG kami merasa terbantu, terutama karena hasil pertanian memiliki pasar dan harga bisa lebih stabil,” ungkap Karmadi.
MBG Buka Peluang Baru bagi Produk Pertanian Lokal
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak hanya memiliki dimensi pemenuhan kebutuhan pangan bergizi, tetapi juga membuka peluang terbentuknya rantai pasok pangan dari tingkat lokal. Berbagai kebutuhan bahan pangan seperti sayuran, buah-buahan dan komoditas pertanian lainnya dapat menjadi peluang pasar bagi petani di sekitar lokasi pelayanan MBG.
Bagi petani seperti Karmadi, kondisi tersebut menjadi kesempatan untuk meningkatkan produksi sekaligus menjaga kualitas hasil panen agar mampu memenuhi kebutuhan pasar secara berkelanjutan. Jika keterhubungan antara petani, kelompok tani, pemasok dan Dapur MBG semakin baik, program tersebut berpotensi memberikan efek ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat perdesaan. Petani tidak hanya berperan sebagai produsen, tetapi menjadi bagian penting dalam penyediaan pangan bergizi bagi masyarakat.
Membuktikan Bertani Bisa Menjadi Pilihan Masa Depan
Perjalanan Karmadi juga membawa pesan penting bagi generasi muda di perdesaan bahwa untuk memperoleh penghasilan yang layak tidak selalu harus meninggalkan kampung halaman atau bekerja ke luar negeri. Peluang justru dapat dibangun dari sumber daya yang tersedia di sekitar tempat tinggal. Dengan kemauan belajar, penguasaan teknologi budidaya, kemampuan membaca kebutuhan pasar serta keberanian mengembangkan usaha, sektor pertanian dapat menjadi pilihan profesi yang menjanjikan.
Kisah Karmadi menunjukkan bahwa petani milenial dapat menjadi pelaku usaha pertanian yang mandiri dan produktif. Dari lahan sekitar satu hektare, ia mampu mengembangkan beragam komoditas, membangun jaringan pemasaran dan menjadikan pertanian sebagai sumber utama penghidupan keluarganya. Ke depan, keberadaan petani-petani produktif seperti Karmadi diharapkan semakin banyak bermunculan. Tidak hanya untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga petani, tetapi juga memperkuat produksi pangan lokal, membuka lapangan pekerjaan di perdesaan serta mendukung ketersediaan pangan bagi masyarakat.

Posting Komentar