Serial Cerita Jejak Kilat: Perjalanan Menuju Penyuluh Masa Depan Episode 3 Telepon Pintar Di Tangan Petan
Daftar Isi
Pagi di Desa Awan, Kecamatan Gemuruh, terasa berbeda.
Beberapa hari setelah kunjungan KILAT ke sawah Pak Jaya, para petani mulai menjalanka]n kesepakatan yang mereka buat bersama. Saluran air dibersihkan secara gotong royong, kondisi tanaman diamati lebih teratur, dan sebagian petani mulai mencatat kegiatan usaha taninya. Namun, satu persoalan terus mengganggu pikiran KILAT. Informasi sering datang terlambat.
Ketika hujan akan turun, petani baru mengetahuinya setelah pestisida selesai disemprotkan. Ketika muncul gejala serangan hama di satu petak sawah, petani di petak lainnya] baru mengetahui beberapa hari kemudian. Begitu pula ketika ada informasi tentang pupuk, jadwal pertemuan, atau teknologi baru. Informasi sebenarnya tersedia, Masalahnya adalah bagaimana membuat informasi itu sampai kepada petani dengan cepat, sederhana, dan tepat waktu.
Pagi itu KILAT kembali menuju pondok kelompok tani. Di tangannya bukan lagi tumpukan materi penyuluhan. Ia membawa sebuah telepon pintar.
Sebuah Ide Sederhana
Pak Jaya, Pak Hasan, Bu Sari, Pak Rahman, dan beberapa petani lain sudah berkumpul.
KILAT mengangkat telepon genggamnya.
“Bapak dan Ibu, hampir semuanya punya telepon seperti ini, bukan?” ( Beberapa petani mengangguk, Pak Hasan tertawa. )
“Punya sih, Pak. Tapi biasanya cuma untuk menelepon anak. ( Bu Sari ikut tersenyum)
“Kalau saya paling sering melihat pesan keluarga.”
KILAT kemudian bertanya lagi.
Bagaimana kalau mulai hari ini telepon ini juga kita jadikan alat untuk membantu mengelola usaha tani?” ( Para petani saling memandang, Pak Jaya tampak penasaran)
“Maksudnya bagaimana, Pak?”
“Kita membuat kelompok komunikasi petani Desa Awan. Kalau ada informasi penting, kita tidak perlu menunggu pertemuan berikutnya.”
KILAT mulai menjelaskan.
Informasi prakiraan cuaca bisa dibagikan. Foto gejala tanaman bisa dikirim. Jadwal kegiatan kelompok bisa diumumkan. Kondisi saluran air dapat dilaporkan. Bahkan perkembangan pertanaman dari setiap hamparan dapat diketahui lebih cepat.
Pak Hasan mengangkat tangannya.
“ Kalau saya tidak pandai mengetik bagaimana?”
“Tidak harus selalu mengetik,” jawab KILAT. “Bapak bisa mengirim foto atau pesan suara.” ( Pak Hasan tersenyum lega)
“Nah, kalau bicara saya bisa.” ( Semua tertawa )
Kelompok Digital Pertama Desa Awan
KILAT membuat sebuah grup komunikasi. Namanya: PETANI AWAN TANGGAP
Foto grup menggunakan gambar hamparan sawah Desa Awan.
Pesan pertama yang dikirim KILAT sederhana:
Selamat datang. Grup ini digunakan untuk berbagi informasi pertanian, kondisi tanaman, cuaca, pengairan, kegiatan kelompok, serta persoalan yang membutuhkan solusi bersama.
Tidak lama kemudian muncul balasan.
Pak Jaya: “Siap.”
Bu Sari: “Sudah masuk.”
Pak Hasan: “Tes suara.”
Disusul sebuah pesan suara sepanjang hampir satu menit. Semua kembali tertawa. Bagi KILAT, hal sederhana itu merupakan langkah besar. Penyuluhan mulai bergerak dari ruang pertemuan menuju ruang digital.
Foto Pertama dari Sawah
Tiga hari kemudian, pukul enam pagi, telepon KILAT berbunyi. Sebuah foto dikirim Pak Jaya. Terlihat beberapa daun padi mengalami kerusakan. Di bawah foto tertulis:
“Pak KILAT, tanaman di petak sebelah timur mulai seperti ini. Apakah perlu disemprot?”
( Beberapa bulan sebelumnya, Pak Jaya mungkin langsung membeli pestisida. Namun sekarang ia bertanya terlebih dahulu. KILAT memperbesar foto. Ia kemudian membalas )
“Jangan langsung disemprot, Pak. Tolong foto bagian bawah daun dan lihat apakah ada serangga atau bekas gigitan. Kalau memungkinkan, kirim foto kondisi satu petak secara keseluruhan.” ( Tidak sampai lima menit, foto berikutnya datang, Pak Rahman yang membaca percakapan ikut mengirim pesan)
“Di sawah saya belum ada gejala seperti itu.” ( Bu Sari kemudian menambahkan)
“Di bagian utara juga belum ada.”
Dalam waktu singkat, informasi yang sebelumnya hanya diketahui satu petani mulai menjadi pengamatan bersama.
KILAT tersenyum. Inilah yang selama ini ia cari.
( Informasi tidak lagi bergerak dari penyuluh kepada petani saja. Informasi mulai bergerak dari petani kepada petani)
Tidak Semua Berjalan Mudah
Namun perubahan tidak selalu berjalan mulus. Pada pertemuan berikutnya, KILAT menemukan Pak Karim duduk sendiri.Pak Karim merupakan salah satu petani paling senior di Desa Awan.
“ Pak Karim belum masuk grup?” tanya KILAT. ( Pak Karim menggeleng)
“ Saya tidak mengerti begitu-begituan.”
“ Teleponnya dibawa, Pak? ( Pak Karim mengeluarkan telepon pintar dari kantongnya)
“Anak saya yang belikan. Katanya pintar. Tapi saya malah merasa teleponnya lebih pintar daripada pemiliknya.” ( KILAT tertawa , Ia duduk di sebelah Pak Karim )
“ Kalau begitu, hari ini kita belajar satu hal saja.”
“Apa?”
“ Membuka grup.”
KILAT menunjukkan caranya perlahan. Setelah beberapa kali mencoba, Pak Karim akhirnya berhasil membuka pesan. Wajahnya langsung berubah.
“Ini foto sawah Pak Jaya?”
“Betul.” ( Pak Karim menggeser layar.)
“Ini informasi hujan besok?”
Betul.” ( Pak Karim terdiam sejenak)
“Kalau begitu berguna juga.”
Hari itu KILAT memahami satu hal lagi.
Transformasi digital bukan sekadar menyediakan teknologi. Transformasi harus memastikan tidak ada petani yang tertinggal.
Ketika Informasi Menyelamatkan Biaya
Beberapa minggu kemudian, KILAT menerima informasi tentang potensi hujan cukup tinggi pada sore hari. Ia segera menulis di grup: Informasi untuk petani Desa Awan: bagi yang berencana melakukan penyemprotan sore ini, sebaiknya mempertimbangkan kondisi cuaca. Potensi hujan cukup tinggi, Pak Hasan segera membalas.
“Untung belum mulai. Tadinya jam tiga mau menyemprot.” ( Pak Jaya mengirim ikon jempol Keesokan harinya Pak Hasan bertemu KILAT di jalan.
“Pak, kemarin benar-benar hujan deras.”
“Iya, Pak.”
“Kalau saya jadi menyemprot, pestisida saya mungkin habis terbawa air.” ( KILAT tersenyum )
“Berarti satu informasi kecil bisa menghemat biaya.” (Pak Hasan mengangguk)
“Sekarang saya mulai rajin membaca grup.”
Masalah Baru Muncul
Namun semakin aktif grup tersebut, semakin banyak pula pesan yang masuk seperti Foto tanaman.Pertanyaan pupuk.Harga gabah.Jadwal tanam.Keluhan pengairan. Foto kegiatan. Informasi cuaca.Bahkan sesekali ada ucapan selamat pagi yang disertai gambar bunga. Dalam sehari, puluhan pesan muncul. Suatu malam KILAT menatap layar teleponnya. Ia mulai kesulitan mencari informasi lama. “Kalau semua informasi hanya menumpuk di grup,” pikirnya, “lama-lama kita akan kesulitan mengingat apa yang sebenarnya terjadi.
Keesokan harinya ia kembali membuka percakapan beberapa minggu terakhir.Ia mulai mencatat. Petani mana yang mengalami serangan. Di lokasi mana.Varietas apa yang ditanam.Kapan pemupukan dilakukan.Kapan gejala mulai muncul.Berapa luas lahan yang terdampak.Semakin banyak ia mencatat, semakin terlihat suatu pola.KILAT terdiam. Informasi yang dikirim petani melalui telepon ternyata bukan sekadar percakapan. Di dalamnya terdapat sesuatu yang jauh lebih berharga.
Dari Komunikasi Menuju Informasi
Pada pertemuan kelompok berikutnya, KILAT menggambar tiga kata di papan tulis:
FOTO → INFORMASI → DATA . Pak Jaya memperhatikannya.
“Apa bedanya, Pak?”
( KILAT menunjuk kata pertama dan Ketika Pak Jaya mengirim foto tanaman, itu adalah dokumentasi ) Ia menunjuk kata kedua. Ketika kita tahu bahwa tanaman itu berada di petak timur dan gejalanya muncul tiga hari lalu, itu menjadi informasi. Kemudian KILAT menunjuk kata terakhir.
“Kalau informasi dari seluruh petani kita kumpulkan dan catat secara teratur, kita mempunyai data.”
Pak Rahman bertanya,
“Data itu nantinya untuk apa?”
“Untuk mengambil keputusan.”
( Ruangan menjadi hening. KILAT melanjutkan )
“Kita bisa mengetahui berapa luas pertanaman. Varietas apa yang paling banyak digunakan. Kapan sebagian besar petani menanam. Di wilayah mana serangan hama mulai muncul. Berapa kebutuhan pupuk. Bahkan kita bisa membandingkan hasil setiap musim.” ( Pak Jaya mulai memahami. )
“Jadi telepon ini bukan hanya untuk menerima informasi?”
“Betul.”
“Petani juga bisa menjadi sumber informasi?” ( KILAT tersenyum)
“Justru itu yang paling penting.”
PETANI BUKAN LAGI SEKADAR PENERIMA
Sore itu, KILAT berjalan pulang melewati hamparan sawah Desa Awan. Telepon genggamnya kembali berbunyi. Sebuah pesan masuk dari Pak Karim. Bukan pesan suara. Pak Karim berhasil mengetik sendiri.
“Air saluran sebelah utara mulai naik. Petani yang sawahnya dekat sana harap diperiksa.” Tidak lama kemudian muncul balasan dari petani lainnya “
Pak Hasan: “Siap.”
Bu Sari: “Saya cek.”
Pak Jaya: “Terima kasih informasinya.”
KILAT berhenti di tengah pematang. Ia membaca percakapan itu sambil tersenyum. Dulu informasi selalu menunggu dirinya. Kini petani mulai saling mengingatkan. Dulu penyuluhan terjadi ketika KILAT hadir. Kini proses belajar berlangsung bahkan ketika ia tidak berada di sana. KILAT memasukkan telepon ke dalam sakunya dan memandang sawah Desa Awan yang berkilau terkena cahaya sore. Sebuah perubahan kecil telah dimulai. Teknologi ternyata bukan tentang telepon yang semakin canggih. Teknologi adalah tentang bagaimana informasi membantu manusia mengambil keputusan yang lebih baik. Namun sebuah pertanyaan baru muncul dalam pikirannya. Jika setiap hari semakin banyak informasi terkumpul.
bagaimana semua informasi itu dapat diubah menjadi dasar perencanaan penyuluhan?
Jawabannya akan membawa KILAT menuju tahap berikutnya dalam perjalanannya menjadi penyuluh masa depan.
⚡ PESAN KILAT
Teknologi bukan pengganti penyuluh dan bukan pula pengganti pengalaman petani. Teknologi adalah jembatan yang membuat informasi bergerak lebih cepat.
Penyuluh masa depan harus mampu:
MENDENGAR → MENGHUBUNGKAN → MENGOLAH INFORMASI → MEMBANTU PETANI MENGAMBIL KEPUTUSAN
Dan transformasi digital hanya berhasil apabila petani yang paling sederhana sekalipun dapat ikut menggunakannya.
Bersambung ke Episode 4: Ketika Data Mulai Berbicara

Posting Komentar