El Nino Bukan Alasan Berhenti Produksi, Kecamatan Selakau - Sambas Turut Andil dalam Gertam 50.000 Hektare Serentak Se-Indonesia.

Daftar Isi
Gertam 50.000 hektare · Gerakan Tanam 2026 · Sambas · Selakau · Gayung Bersambut · Oplah 2025 · Brigade Pangan · El Nino · alsintan · PM-AAS · pertanian modern · ketahanan pangan · swasembada pangan · Kementerian Pertanian

SAMBAS, REDAKSI KILAT — Ancaman El Nino tidak menyurutkan semangat petani di Kabupaten Sambas untuk terus menanam. Di tengah tantangan iklim dan ketersediaan air, gerakan menjaga produksi pangan justru terus digelorakan melalui Gerakan Tanam (Gertam) 50.000 hektare yang dilaksanakan secara serentak di berbagai wilayah Indonesia, Jumat, 18 September 2026.

Di Kabupaten Sambas, kegiatan Gertam dilaksanakan di sejumlah kecamatan, salah satunya di Desa Gayung Bersambut, Kecamatan Selakau, dengan memanfaatkan kawasan lahan Optimasi Lahan (Oplah) Tahun 2025 yang dikelola oleh Brigade Pangan Kammi Bersambut. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya mendorong peningkatan produksi pertanian sekaligus memperkuat ketahanan pangan dan mewujudkan swasembada pangan yang berkelanjutan.  Pelaksanaan Gertam di lokasi Oplah 2025 Desa Gayung Bersambut turut dihadiri Koordinator BPP Kecamatan Selakau, para Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) se-Kecamatan Selakau, Ketua Gapoktan, Brigade Pangan, serta perwakilan anggota kelompok tani yang berada dalam kawasan lokasi Oplah 2025.

Semangat yang dibangun dalam kegiatan tersebut sederhana namun kuat: lahan harus tetap produktif selama sumber air masih tersedia. Koordinator BPP Kecamatan Selakau, Agusmanto, S.ST., menegaskan bahwa kondisi El Nino tidak seharusnya menjadi alasan bagi petani untuk menghentikan aktivitas produksi, terutama pada lahan yang masih memiliki dukungan ketersediaan air. “Ancaman El Nino bukan alasan untuk berhenti berproduksi. Selagi air masih tersedia, kita tetap menanam dan memanfaatkan lahan yang ada secara optimal,” tegasnya. Keberlanjutan produksi pangan membutuhkan keberanian untuk tetap bergerak menghadapi berbagai tantangan. Salah satunya dengan memanfaatkan dukungan pemerintah berupa alat dan mesin pertanian (alsintan) yang diberikan melalui program Kementerian Pertanian. Pemanfaatan alsintan diharapkan mampu membantu petani mempercepat proses budidaya, meningkatkan efisiensi pekerjaan di lapangan, serta mendukung pengelolaan kawasan Oplah agar dapat memberikan hasil produksi yang optimal.

Kawasan Oplah 2025 di Desa Gayung Bersambut menjadi salah satu bagian penting dalam pengembangan kawasan pertanian di Kecamatan Selakau. Melalui optimalisasi lahan, lahan yang sebelumnya menghadapi berbagai keterbatasan diarahkan agar kembali produktif dan mampu memberikan kontribusi terhadap peningkatan produksi pangan. Kehadiran Brigade Pangan juga menjadi bagian penting dalam pengelolaan kawasan tersebut. Kolaborasi antara penyuluh, Brigade Pangan, kelompok tani dan petani diharapkan mampu memperkuat pengelolaan usaha tani secara lebih modern, terorganisasi dan efisien.

Gertam 50.000 hektare bukan sekadar kegiatan tanam secara seremonial. Gerakan ini menjadi momentum untuk membangun kesadaran bersama bahwa keberlanjutan produksi pangan membutuhkan kerja nyata di tingkat lapangan. Dalam kesempatan tersebut, Koordinator BPP Kecamatan Selakau  juga menyampaikan informasi mengenai sejumlah program strategis Kementerian Pertanian, salah satunya penerapan PM-AAS (Pertanian Modern – Advanced Agricultural System).

PM-AAS diarahkan untuk mendorong transformasi pertanian melalui penerapan sistem pertanian modern, pemanfaatan mekanisasi, peningkatan efisiensi budidaya serta pengelolaan pertanian yang lebih terintegrasi. Pengenalan PM-AAS kepada petani dan pelaku pertanian di tingkat lapangan menjadi bagian penting agar transformasi pertanian tidak hanya berhenti pada program, tetapi dapat dipahami dan diterapkan secara bertahap oleh petani. Menurut Agusmanto, perubahan pola pertanian menuju sistem yang lebih modern membutuhkan kesiapan petani, penyuluh dan kelembagaan pertanian untuk beradaptasi dengan teknologi.

Semangat tersebut sejalan dengan pelaksanaan Gertam 50.000 hektare, yakni menggerakkan lahan pertanian agar tetap produktif dengan memanfaatkan sumber daya, teknologi dan dukungan pemerintah secara optimal. Gerakan tanam di Desa Gayung Bersambut menjadi gambaran bahwa upaya menjaga ketahanan pangan tidak hanya dilakukan ketika kondisi ideal. Justru ketika menghadapi tantangan iklim seperti El Nino, konsistensi produksi menjadi semakin penting selama kondisi lahan dan ketersediaan air masih memungkinkan.

Dengan dukungan alsintan, optimalisasi lahan Oplah, penguatan Brigade Pangan, pendampingan penyuluh serta penerapan sistem pertanian modern melalui PM-AAS, Kecamatan Selakau terus mengambil bagian dalam upaya memperkuat produksi pangan daerah. Dari lahan Oplah 2025 Desa Gayung Bersambut, semangat itu kembali ditegaskan: petani tetap menanam, lahan tetap produktif, dan ketahanan pangan harus dijaga bersama. Gerakan tanam tersebut sekaligus menjadi bagian dari ikhtiar bersama untuk membangun swasembada pangan yang berkelanjutan, dari tingkat desa hingga nasional.


Liputan     : A.M Kilat Team

Editor          : Kilat


Redaksi KILAT
Kreatif • Inovatif • Luwes • Adaptif • Tanggap
Menginspirasi Penyuluh, Menguatkan Pertanian Indonesia

Posting Komentar