Sejarah Penyuluh Pertanian Dunia dari Pengajar Keliling hingga Era Digital
REDAKSI KILAT — Sebelum istilah penyuluh pertanian dikenal seperti sekarang, petani telah mengenal satu kebutuhan yang sama sejak ribuan tahun lalu: pengetahuan untuk bertahan, meningkatkan hasil, dan menghadapi perubahan alam. Dari tablet tanah liat di Mesopotamia hingga ruang pertemuan kelompok tani dan teknologi digital masa kini, perjalanan penyuluhan pertanian ternyata memiliki sejarah yang sangat panjang. Penyuluhan bukan sekadar kegiatan menyampaikan informasi, tetapi merupakan perjalanan panjang dalam mempertemukan ilmu pengetahuan, teknologi, pengalaman petani, dan kebutuhan masyarakat.
Jejak Pertama Berawal Ribuan Tahun Lalu
Jauh sebelum lahirnya lembaga penyuluhan modern, praktik berbagi pengetahuan pertanian telah berlangsung dalam berbagai bentuk. FAO mencatat salah satu contoh paling awal berasal dari Mesopotamia sekitar 1800 SM, wilayah yang kini sebagian besar berada di Irak. Para arkeolog menemukan tablet tanah liat yang memuat informasi mengenai pengairan tanaman dan pengendalian tikus. Pengetahuan pertanian juga berkembang melalui tulisan-tulisan pada masa Yunani dan Romawi. Berbagai karya pertanian pada masa tersebut berisi pengalaman praktis mengenai pengelolaan lahan, tanaman, dan usaha pertanian. Artinya, semangat penyuluhan sebenarnya sudah muncul sejak manusia mulai menyadari bahwa pengalaman yang berhasil perlu dibagikan kepada orang lain.
Dari Pengetahuan Tradisional Menuju Penyuluhan Modern
Memasuki abad ke-19, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi pertanian di Eropa membawa perubahan besar. Sekolah pertanian, lembaga penelitian, perkumpulan petani, kebun percobaan, serta berbagai publikasi pertanian mulai berkembang. Pengetahuan yang sebelumnya lebih banyak diwariskan melalui pengalaman mulai diperkuat oleh hasil penelitian dan eksperimen. Istilah “extension” dalam konteks pendidikan mulai berkembang di Inggris pada paruh kedua abad ke-19. Universitas Oxford dan Cambridge mulai memikirkan bagaimana pendidikan dapat menjangkau masyarakat di luar kampus. Pada dekade 1890-an, materi pertanian mulai dibawa oleh para pengajar keliling ke wilayah pedesaan.
Inilah salah satu tonggak penting yang kemudian melahirkan konsep agricultural extension, atau penyuluhan pertanian modern.
Krisis Kentang dan Lahirnya Penyuluhan Pertanian Terorganisasi
Salah satu momentum penting dalam sejarah penyuluhan pertanian terjadi di Eropa ketika wabah penyakit tanaman kentang melanda pada 1845. Dampaknya sangat berat, khususnya di Irlandia yang masyarakatnya sangat bergantung pada kentang sebagai sumber pangan. Dalam situasi tersebut, pemerintah mendorong penyampaian pengetahuan praktis kepada petani. Para pengajar pertanian kemudian melakukan perjalanan dari satu wilayah ke wilayah lain untuk memberikan penjelasan, demonstrasi, dan pendampingan mengenai cara memperbaiki budidaya serta alternatif tanaman pangan.
Model pengajar keliling ini kemudian berkembang di berbagai wilayah Eropa. Jerman, Prancis, Denmark, Italia, Belanda, Swiss dan sejumlah negara lain mengembangkan berbagai bentuk sistem penyuluhan pertanian pada abad ke-19. Dari sinilah terlihat sebuah prinsip penting yang masih relevan hingga sekarang: Pengetahuan pertanian tidak cukup hanya berada di lembaga penelitian atau ruang pendidikan. Pengetahuan harus sampai kepada petani dan dapat diterapkan di lapangan.
Amerika Serikat Mengembangkan Sistem Penyuluhan Berbasis Riset
Perkembangan penyuluhan pertanian kemudian mendapatkan bentuk yang semakin sistematis di Amerika Serikat. Akar sistem tersebut dapat ditelusuri ke berbagai klub dan perkumpulan pertanian pada awal abad ke-19. Salah satu tokoh yang sangat berpengaruh adalah Seaman A. Knapp, yang mengembangkan metode demonstrasi untuk memperlihatkan secara langsung kepada petani bagaimana teknologi dan praktik pertanian berbasis penelitian dapat diterapkan. Pendekatan tersebut kemudian berkembang menjadi Farmers' Cooperative Demonstration Work. Tonggak penting terjadi pada 8 Mei 1914, ketika Presiden Woodrow Wilson menandatangani Smith-Lever Act. Undang-undang tersebut secara resmi membentuk Cooperative Extension Service yang terhubung dengan perguruan tinggi land-grant dan pemerintah federal melalui USDA. Model ini memperkuat hubungan tiga unsur penting: Penelitian → Penyuluhan → Petani Hasil penelitian tidak berhenti di laboratorium, tetapi diterjemahkan menjadi pengetahuan dan teknologi yang dapat dimanfaatkan masyarakat.
Bagaimana Penyuluhan Pertanian Masuk ke Indonesia?
Perjalanan penyuluhan pertanian di Indonesia juga memiliki sejarah panjang. Salah satu akar perkembangannya berkaitan dengan Kebun Raya Bogor yang berdiri pada 1817. Dalam perkembangannya, kawasan tersebut tidak hanya menjadi tempat pengembangan ilmu botani, tetapi juga berkembang menjadi pusat penelitian, pendidikan, dan pengembangan pengetahuan pertanian. Pada 1876, dibangun Kultuur Tuin atau Kebun Budidaya Tanaman di Cikeumeuh, Bogor, yang memiliki fungsi penelitian, pendidikan, dan penyuluhan. Perkembangan pendidikan pertanian kemudian melahirkan tenaga-tenaga yang kelak berperan dalam pembangunan pertanian.
Tonggak berikutnya terjadi pada 1 Januari 1905, ketika pemerintah Hindia Belanda membentuk Departement van Landbouw atau Departemen Pertanian. Salah satu tugasnya berkaitan dengan peningkatan pertanian rakyat serta pendidikan dan pelatihan di bidang pertanian dan perkebunan. Namun, dalam catatan sejarah penyuluhan pertanian Indonesia, tahun 1908 sering disebut sebagai salah satu tonggak penting lahirnya kegiatan penyuluhan secara lebih terorganisasi. Pada tahun tersebut diangkat lima orang penasihat pertanian (landbouw adviseur) serta beberapa pembantu penasihat pertanian (assistent landbouw adviseur) sebagai pegawai Departemen Pertanian. Mereka menjadi bagian dari upaya membawa pengetahuan pertanian kepada masyarakat melalui sistem pemerintahan pada masa itu.
Dari Landbouw Adviseur hingga Penyuluh Pertanian Masa Kini
Perjalanan penyuluhan pertanian Indonesia tentu tidak berhenti pada masa kolonial. Setelah Indonesia merdeka, konsep, kelembagaan, pendekatan, dan tujuan penyuluhan mengalami berbagai perubahan mengikuti kebutuhan pembangunan pertanian nasional. Penyuluhan kemudian semakin diarahkan pada pendidikan nonformal bagi petani, peningkatan kemampuan, penerapan teknologi, pengembangan kelembagaan petani, peningkatan produktivitas, hingga penguatan kesejahteraan masyarakat pertanian.
Dengan kata lain, penyuluh pertanian tidak lagi hanya dipandang sebagai penyampai pesan pemerintah, tetapi berkembang sebagai pendamping proses belajar dan perubahan di tengah masyarakat tani. Perjalanan tersebut juga melahirkan berbagai pendekatan penyuluhan, mulai dari sistem demonstrasi, sekolah lapang, latihan dan kunjungan, kelompok tani, hingga pendekatan berbasis teknologi informasi.
Penyuluhan Pertanian di Era Digital
Hari ini, dunia pertanian memasuki babak baru. Penyuluh tidak hanya berdiri di lahan sawah atau kebun untuk memberikan penjelasan. Informasi pertanian dapat disampaikan melalui WhatsApp, video, media sosial, aplikasi pertanian, platform digital, webinar, dan berbagai sistem informasi. Petani bahkan dapat memperoleh informasi mengenai cuaca, harga komoditas, teknologi budidaya, pemupukan, pengendalian organisme pengganggu tanaman, mekanisasi, hingga pemasaran hanya melalui telepon pintar. Namun, perubahan teknologi tidak menghilangkan peran manusia. Justru di tengah derasnya informasi, peran penyuluh menjadi semakin penting sebagai penghubung, penerjemah, pendamping, dan penyaring informasi agar teknologi dan pengetahuan yang diterima petani sesuai dengan kondisi nyata di lapangan.
Penyuluh, Profesi yang Terus Berubah
Jika ditarik dari sejarah panjangnya, penyuluhan pertanian sebenarnya memiliki satu benang merah yang tidak berubah: membawa pengetahuan menjadi tindakan. Dulu pengetahuan disampaikan melalui tablet tanah liat, buku, pengajar keliling, kebun demonstrasi, dan pertemuan tatap muka. Kini pengetahuan dapat bergerak melalui jaringan internet dan perangkat digital. Tetapi persoalan mendasarnya tetap sama: bagaimana membuat pengetahuan pertanian benar-benar bermanfaat bagi petani.
Karena itu, sejarah penyuluhan pertanian bukan hanya sejarah sebuah profesi. Ia adalah sejarah tentang bagaimana manusia belajar dari pengalaman, mengembangkan ilmu pengetahuan, lalu membagikannya untuk meningkatkan kehidupan masyarakat. Dari landbouw adviseur hingga penyuluh pertanian masa kini, perjalanan tersebut menunjukkan bahwa penyuluhan akan selalu dibutuhkan selama pertanian terus menghadapi perubahan. Dan ketika pertanian memasuki era modernisasi, mekanisasi, digitalisasi, serta perubahan iklim, tantangan penyuluh pun ikut berubah. Penyuluh masa depan bukan hanya dituntut mampu menyampaikan informasi, tetapi juga mampu membaca perubahan, memahami teknologi, mendampingi petani, dan menjembatani ilmu pengetahuan dengan realitas di lapangan.
Sumber Informasi :
Food and Agriculture Organization (FAO) – The History, Development and Future of Agricultural Extension.USDA National Institute of Food and Agriculture (NIFA) – Cooperative Extension History.
Kementerian Pertanian Republik Indonesia – BPPSDMP – Sejarah Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian.
Departemen Pertanian Republik Indonesia – Sepuluh Windu (80 Tahun) Penyuluhan Pertanian di Indonesia 1908–1988.
Kementerian Pertanian Republik Indonesia – Perkembangan Penyuluhan Pertanian.
Kementerian Pertanian Republik Indonesia – Lima Dasawarsa Membangun Pangan dan Pertanian.
Editor : Kilat
Redaksi KILAT
Kreatif • Inovatif • Luwes • Adaptif • TanggapMenginspirasi Penyuluh, Menguatkan Pertanian Indonesia

Posting Komentar